Kamis, 14 April 2011

Wayang

WAYANG MERUPAKAN BUDAYA LOKAL YANG
MENJADI KEKAYAAN BUDAYA BANGASA

BAB I
PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan masyarakatnya yang pluralistik mempunyai berbagai macam, bentuk, dan variasi kesenian budaya. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh peradaban budayanya. Seiring dengan perkembangan jaman dan globalisasi, semakin banyak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Generasi muda bangsa kita semakin lupa akan budaya bangsanya sendiri, mereka seakan-akan tertelan arus globalisasi yang lebih mengandalkan teknologi dan melupakan akar budayanya sendiri. Kebudayaan asli seakan-akan hampir punah karena tidak dilestarikan dan semakin tertelan arus perubahan jaman.
Walaupun teknologi di era globalisasi ini merupakan faktor dominan dalam kultur kehidupan manusia masa kini dan juga merupakan ketergantungan yang hebat, namun kita juga harus dapat mewarnai era globalisasi ini dengan dikembangkannya kebudayaan negeri sendiri.
Wayang sebagai salah satu kesenian tradisional leluhur kita yang mempunyai banyak sekali nilai-nilai seni, yang mengandung dasar falsafah hidup dan pengajaran-pengajaran yang bernilai, merupakan kesenian yang unik dan juga merupakan salah satu kekayaan budaya yang seharusnya dapat mulai dilestarikan, karena keberadaannya yang semakin tenggelam dalam era globalisasi. Bukan tidak mungkin dengan menghidupkan kembali kesenian wayang, dapat menjadi ciri khas dan dapat menjadi aset bagi suatu daerah, mengingat nilai kebudayaan wayang adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai, yang diharapkan dapat menciptakan keseimbangan dalam menghadapi persaingan yang jelas akan terjadi pada era pasar perdagangan bebas.
Maka sangatlah penting melestarikan budaya wayang agar dapat menghadirkan kembali suasana tradisional yang mampu menghidupkan, mengembangkan, memelihara dan mempopulerkan wayang di tengah masyarakat, selain untuk memenuhi perkembangan era globalisasi kebudayaan dengan lahirnya generasi muda yang kreatif terhadap nilai-nilai budaya dan memiliki jiwa kompetitif terhadap kesenian baru dan masuknya kebudayaan-kebudayaan asing.























BAB II
PEMBAHASAN

Wayang merupakan hasil, cipta rasa dan karsa manusia Indonesia oleh proses daya spiritual. Nonton pagelaran wayang merupakan proses introspeksi intuitif terhadap simbol-simbol kehidupan disertai pembersihan intelektual dan penyucian moral sehingga mendapatkan pencerahan rohani. Pagelaran wayang memakai logika dongeng tetapi logika itu atas dasar nilai-nilai realitas seharĂ­-hari. Wayang merupakan cermin kehidupan manusia secara kongkrit. Oleh karena itu, filsafat wayang berakar pada realitas nilai-nilai kehidupan di masyarakat Indonesia.
Dalam simbol-simbol yang digelarkan dalam pewayangan dapat memberi gambaran dan pemahaman bagi kita bahwa pagelaran wayang merupakan gambaran Tuhan dalam menciptakan kehidupan manusia dan seisi alamnya. Ruangan kosong tempat pentas wayang melambangkan alam semesta sebelum Tuhan menciptakan kehidupan. Kelir menggambarkan langit, pohon pisang sebagai bumi, blencong sebagai matahari, wayang melambangkan manusia dan mahkluk penghuni dunia lainnya, gamelan dan karawitan menggambarkan irama kehidupan, penonton adalah roh-roh mahkluk Tuhan yang menyaksikan pentas kehidupan manusia. Semua ciptaan Tuhan seisi alam ini hidup dan bergerak sesuai kodrat Tuhan. Tuhan adalah Dzat yang kadim, azali dan abadi. Manusia diciptakan Tuhan dengan simbol gunungan atau "kayon". Kayon menancap ditengah kelir adalah lambang hayat atau hidup, maksudnya sebelum manusia lahir, hidup itu sudah ada. Gunungan dicabut menandakan manusia itu lahir yang dilambangkan pada "jejer" atau adegan pertama, seorang raja hadir dipasewakan agung suatu negara. Perjalanan hidup manusia selanjutnya akan mengikuti alur kodrat lahir, dewasa, tua dan mati sesuai irama hidup dalam pagelaran wayang yaitu pathet 6, 9 dan pathet manyura. Akhir dari pathet manyura adalah "tanceb kayon" sebagai lambang manusia itu mati. Gunungan ditancapkan kembali ditengah kelir yang menandakan manusia mati tetapi hayat tetap ada untuk memasuki hidup setelah mati di alam akherat. Oleh karena itu ketika hidup, manusia hendaknya memahami "sangkan paraning dumadi" dan selalu berusaha "nggayuh kasampurnan" agar hidupnya selamat didunia dan akherat.
Begitu kaya nilai positif yang terkandung dalam seni budaya wayang, lewat tontonan wayang manusia bisa belajar dan memaknai kehidupan seperti yang dilakonkan dalam pewayangan karena dalam pewayangan berusaha memberikan jawaban-jawaban etis terhadap berbagai aspek kehidupan manusia dalam kehidupan pribadi, berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dalam kehidupan pribadi wayang memberikan jawaban berupa etika budi pekerti. Budi pekerti yang tidak sekedar normatif melainkan aplikatif karena disampaikan melalui contoh-contoh dalam pagelaran wayang sehingga tidak indoktrinatif melainkan edukatif. Dalam kehidupan bermasyarakat, wayang mengajukan gagasannya mengenai negara yang ideal, pemimpin yang bijaksana, kehidupan masyarakat yang sejahtera dan sebagainya. Gagasan tersebut antara lain terungkap pada narasi "jejer" pertama dipasewakan agung suatu negara.Dalam setiap lakon wayang yang dipentaskan, pandangan dan jawaban filsafati kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara itu selalu dikemukakan dengan jelas yang sebenarnya mudah diserap oleh para pemirsanya.
Namun sayang budaya wayang sudah mulai ditinggalkan seperti dikutip dalam Koran kompas 17 Juli 2009 dimana Pertunjukan wayang kulit menghadapi masa krisis karena dalam beberapa tahun terakhir pagelaran wayang semakin sepi. Indikasi krisis itu ditunjukkan dengan semakin sepinya tanggapan untuk pementasan wayang kulit secara merata di berbagai daerah.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, situasi dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Masuknya beraneka ragam budaya di tengah masyarakat, tanpa disadari terus menggerus budaya lokal. Budaya wayangpun kini terkesan terpinggirkan. Seharusnya, muatan lokal tadi mampu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Salah satunya adalah popularitas wayang yang semakin jarang dimainkan. Ada perasaan malu, saat sekumpulan ABG duduk di atas tikar sembari menyaksikan pementasan wayang yang dimainkan dalang. Mereka menganggap wayang adalah tontonan orang tua. Ironisnya, merupakan sebuah kebanggaan jika sekumpulan ABG bisa berjingkrak-jingkrak di tengah lapangan, sembari mengikuti dentuman musik yang dibawakan grup band idola mereka. Fenomena seperti ini, disadari atau tidak terus bergulir seiring berjalannya waktu dan menyisakan banyak pertanyaan. Apakah wayang masih bisa dipertahankan atau akan menjadi sejarah. Bahkan yang paling menakutkan adalah warisan yang seharusnya kita jaga bersama akan diakui negara lain yang sekarang marak, dimana akhir-akhir ini budaya kita banyak diklaim oleh Negara tetangga yaitu Malaysia.
Memang untuk menyaksikan pementasan wayang, selain dibutuhkan waktu yang panjang hingga semalam suntuk, dibutuhkan pula kejelian membaca berbagai pesan yang disampaikan dalang dalam gerak maupun cerita yang dibawakan. Tidak hanya itu, pementasan wayang yang mayoritas penontonnya adalah orang tua diakuinya semakin membuat jarak antara generasi muda secara umum untuk bisa menjadi penerus tongkat estafet dalam melestarikan budaya daerah yang dimiliki. Tetapi, kondisi tersebut bukan berarti anak muda menjadi acuh terhadap budaya sendiri. Tidak ada salahnya kaum muda penggemari musik pop, rock, dangdut dan sebagainya. Namun sudah seyogyanya tetap mencintai kesenian daerah sehingga terjadi keseimbangan , yang justru akan memperkaya khasanah budaya yang ada sehingga regenerasi bisa berjalan dengan baik.
Untuk melestarikan dunia pewayangan dibutuh dukungan semua pihak bagaimana ke depan wayang bisa dilestarikan secara turun temurun, khususnya untuk menghadapi tantangan global. Tantangan global bukanlah halangan bagi dunia pewayangan, tapi bagaimana menjadikan budaya wayang dan budaya modern agar bisa berbaur, seiring, dan saling melengkapi. Untuk itu, diperlukan sejumlah terobosan baru agar budaya pewayangan dikemas berbeda dan menarik generasi muda yang saat ini lebih cenderung memilih budaya modern sebagai trend budaya mereka. Wayang tidak tabu dengan teknologi, oleh sebab itu inovasi terhadap wayang bukanlah menjadi masalah, misal dengan menambahkan unsur teknologi seperti menyertakan proyektor atau teknologi lainnya pada pentas wayang.
Dalam melestarikan budaya wayang bidang pendidikan sangat strategis untuk mempertahankan khasanah budaya dengan memberi ekstrakurikuler seperti gending, menari dan kesenian yang lain. Langkah ini menjadi salah satu modal agar generasi muda sejak usia dini bisa mengenal dan mempelajari kesenian secara universal, yang nantinya akan lebih spesifik karena untuk bisa memahami dan memainkan sebuah kesenian membutuhkan proses yang tidak singkat.















BAB III
KESIMPULAN

Kebudayaan dan seni adalah suatu yang tak ternilai harganya. Masyarakat Indonesia seharusnya dapat lebih menghargai seluruh budaya yang ada di Negara ini. Wayang merupakan salah satu bagian dari kesenian asli bangsa kita. Namun demikian cerita-cerita pewayangan belakangan ini memang kurang diminati dan ditinggalkan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Budaya wayang dan kesenian tradisional lainnya dianggap kuno dan tidak menarik.
Mestinya kita patut bangga bahwa wayang telah diakui dunia sebagai mahakarya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi. Warisan kebudayaan tersebut dinilai sangat indah dan berharga. Itu berarti wayang telah menjadi salah satu warisan lokal yang diakui dunia untuk dilestarikan. Dengan begitu, masyarakat diharapkan mau ikut serta memelihara, melestarikan, dan mengembangkan warisan budayanya, baik yang menyangkut pengetahuan maupun apresiasi kebudayaan tradisional. Ini dimaksudkan supaya wayang akan selalu terjaga sebagai warisan kebudayaan Indonesia.
Agar kesenian wayang tetap lestari di Tanah Air, kita harus mencintai, menghargai, dan menjaganya sebaik mungkin, sehingga diharapkan pengakuan dunia terhadap keberadaan wayang dapat menyadarkan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, untuk mencintai dan selalu melestarikan kesenian tradisional Indonesia. Dunia pendidikan adalah sarana yang efektif untuk menjaga dan melestarikan wayang yaitu melalui penididikan apresiasi seni di sekolah-sekolah atau kegiatn ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah
Pemerintah Indonesia diharapkan untuk terus mendukung dan melestarikan budaya tanah air, diantaranya adalah kesenian wayang, karena kesenian wayang secara tidak langsung mengajarkan kepada kita, khususnya untuk generasi muda, nilai-nilai positif tentang perbuatan baik dan salah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Keputusan Konggres pewayangan “www.eastern/yogya.com./Web/Id.
2. Petra Christian Univercity- wayang “ Http:/petrachristianlibrary-jiunkpes ars-2002-22497106-88769-wayang-jawa-chapter-id.
3. www.radaltegal.com
4. Wayang-ku”www.wayangku-wordpress.com
5. Warisan Budaya untuk semua”http://arkeologi.ugm.ac.id
6. Museum wayang di Yogyakarta”,www.wayangku.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar