Kamis, 14 April 2011

Narkoba

NARKOBA MERUSAK MASA DEPAN BANGSA

PENDAHULUAN


Seperti kita ketahui bersama, dewasa ini penyalahgunaan narkoba telah terjadi di semua tempat, baik di daerah pedesaan maupun di perkotaan. Masyarakat pengguna sangat beragam, mulai dari remaja sampai orang tua bahkan anak-anak. Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba, saat ini telah menjadi problema nasional dan bahkan internasional. Jaringan pengedarnyapun sangat luas dan meliputi hampir semua negara di dunia.
Pada awalnya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang terbatas pada dunia kedokteran namun belakangan terjadi penyimpangan fungsi dan penggunaannya tidak lagi terbatas pada dunia kedokteran. Penggunaan berbagai macam jenis obat dan zat adiktif atau yang biasa disebut narkoba dewasa ini cukup meningkat terutama di kalangan generasi muda. Morfin dan obat-obat sejenis yang semula dipergunakan sebagai obat penawar rasa sakit, sejak lama sudah mulai disalahgunakan. Orang-orang sehat pun tidak sedikit yang mengkonsumsi obat-obatan ini. Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang diakui banyak kalangan menjadi ancaman yang berbahaya bagi bangsa Indonesia.
Motivasi dan penyebab mengapa orang mengkonsumsi obat-obatan tersebut dapat bermacam-macam antara lain sebagai tindakan pemberontakan karena adanya penolakan oleh lingkungan seperti adanya perasaan minder, latar belakang dari keluarga yang berantakan, patah hati, atau hal-hal lain. Penyebab lain adalah sebagai tindakan untuk mengurangi stres dan depresi, sekedar mencoba untuk mendapatkan perasaan nyaman dan menyenangkan, sebagai tindakan agar diterima dalam lingkungan tertentu dan adanya rasa gengsi atau sebagai tindakan untuk lari dari realita kehidupan. Banyak kejadian dimana remaja menggunakan narkoba hanya untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain, contohnya ketika seorang anak sedang mengalami konflik, anak membutuhkan kehadiran serta perlindungan dari orangtuanya namun ketika anak tidak pernah mendapatkan penyelesaian dari orangtua maka dirinya mencari penyelesaian dari lingkungan dan teman-temannya. Hal tersebut hanyalah manifestasi dari kebutuhan mereka akan penghargaan dan pengakuan dari orangtua mereka sendiri. Disamping itu, alasan utama seseorang mencoba obat-obatan adalah karena rasa ingin tahu mereka terhadap efek yang menyenangkan dari narkoba dan keinginan untuk mengikuti bujukan orang lain terutama dari lingkungan pergaulan mereka.
Untuk dewasa ini perkembangan pengguna narkoba terus berkembang dengan pesat berkembangnya jumlah pecandu ditentukan oleh dua faktor, yaitu (1) Faktor dari dalam diri meliputi : minat, rasa ingin tau, lemahnya rasa ketuhanan, ketidakstabilan emosi. (2) Faktor dari luar diri meliputi : gangguan psiko-sosial keluarga, lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba, lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan konseling dan lemahnya pendidikan agama.

























BAB II
PEMBAHASAN
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa puber. Pada masa inilah umumnya dikenal sebagai masa “percobaan” keadaan remaja penuh energi, serba ingin tahu, belum sepenuhnya memiliki pertimbangan yang matang, mudah terombang-ambing, mudah terpengaruh, nekat dan berani, emosi tinggi, selalu ingin coba-coba dan tidak mau ketinggalan. Pada masa-masa inilah mereka menunjukkan sikap ketidakmantapan, atau sikap tidak konsisten yakni berpindah-pindah perilaku atau norma. Dalam masa transisinya mereka berusaha menyadari tentang siapa dirinya, seraya mencari identitas egonya dengan melepas diri dari segala bentuk kekangan dan berontak terhadap norma-norma atau tradisi yang berlaku yang kiranya tidak dikehendaki dan diantaranya mereka banyak yang terjebak dengan yang namanya narkoba dan mereka-meraka ini menjadi sasaran yang empuk bagi para pengedar obat terlarang.
Begitu pula di usia remaja, terdapat suatu gejala psikologis tertentu sebagai akibat masa perkembangan. Gejala yang paling menonjol pada masa perkembangan ini, yakni adanya kebutuhan atau keterikatan dalam kelompok sebaya (peer group) secara kuat. Seringkali juga terdapat persaingan tersembunyi, yang tujuannya untuk mendapatkan status dan prestise dalam suatu kelompok
Penyalahgunaan obat terlarang kebanyakan terjadi di kalangan remaja/pelajar dan permasalahan ini merupakan masalah yang sangat kompleks, karena permasalahan tersebut tidak saja menyangkut pada remaja atau pelajar itu sendiri, tetapi juga melibatkan banyak pihak baik keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, teman sebaya, tenaga kesehatan, serta aparat hukum, baik sebagai faktor penyebab, pencetus, ataupun yang menanggulangi
Untuk melakukan penanggulangan terhadap peredaran narkoba yang sudah semakin memprihatinkan dan membahayakan karena semakin banyaknya jumlah generasi muda Indonesia yang telah menjadi korban penyalahgunaan narkoba, maka diperlukan suatu bentuk manajemen penanggulangan peredaran narkoba serta dampak bahaya yang ditimbulkannya dengan melibatkan masyarakat sebagai komponen utama. Strategi penanggulangan peredaran narkoba tersebut direalisasikan melalui pembentukan organisasi dari kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat. Kolaborasi kelompok – kelompok sosial tersebut diberikan pembekalan, pendidikan dan pelatihan yang memadai sehingga diharapkan kelak dapat memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada masyarakat dalam menanggulangi kejahatan peredaran narkoba yang semakin memprihatinkan. Penanganan masalah narkoba melalui pemberdayaan kelompok sosial masyarakat harus disusun dan direncanakan secara sistematis dan berkesinambungan dengan didukung oleh kepolisian dan pemerintah yang melalui beberapa proses antara lain, yaitu pertama Input merupakan keikut sertaan dan pelibatan lembaga-lembaga terkait, seperti kepolisian, Badan Narkotika Daerah, Departemen Sosial serta lembaga kemasyarakatan yang peduli terhadap narkoba. Kedua Proses, yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Ketiga Out Put, yaitu diharapkan dengan kolaborasi kelompok sosial ini dapat meningkatkan peran dan kapasitas kelompok sosial dalam penanggulangan narkoba peredaran narkoba dan diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat tentang penanggulangan peredaran narkoba dan dampak bahaya yang dapat ditimbulkan oleh narkoba












BAB III
KESIMPULAN

Permasalahan penyalahgunaan dan pererdaran gelap narkoba memang bukanlah masalah yang sederhana. Masalahnya sangat komplek dan bisa dikatakan rumit. Karena itu diperlukan berbagai upaya yang komprehensif dan berkesinambungan dalam memeranginya.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta dan masyarakat selama ini nampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan, hal ini disebabkan oleh berbagai kelemahan dan kendala terutama dalam koordinasi aplikasi program, evaluasi dan monitoring serta masalah moral penegak hukum.
Potensi masyarakat khususnya tokoh masyarakat sesungguhnya mempunyai kekuatan strategis apabila digerakkan dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Mengapa? Karena pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat adalah upaya untuk memberi kekuatan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan melakukan upaya-upaya untuk mencapai kebutuhan tersebut. Pendekatan ini dianggap relevan dalam mengatasi masalah narkoba dikalangan masyarakat
Penanganan penyalahguna narkoba merupakan tugas kita bersama agar bangsa kita terlepas dari lost generation. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan narkoba secara berkesinambungan agar penyalahguna narkoba dapat terdeteksi sedini mungkin. Paling tidak melalui uji screening. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahaya yang akan timbul dan biaya untuk menyembuhkan pecandu narkoba sangat mahal dan memerlukan waktu yang lama
Dalam rangka semangat untuk terus memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, mari kita perbaiki kelemahan – kelemahan tersebut dan kita atasi berbagai kendala dengan cara yang cerdas. Demi bangsa dan negara ini, mari kita semua terus berjuang memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.





DAFTAR PUSTAKA



1. http://lead.sabda.org/kecanduan_dan_penyalahgunaan_obat_obatan

2. http://www.indonesia.go.id/id/indek.php?option=com_content&task=view&id-5841&Itemid=

3. http://midwiferyeducator.wordpress.com/2009/12/16/penyalahgunaan-obat-terlarang-napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-adiktif-lainnya-drugs/

4. http://www.sadarnarkoba.com/?p=65

5. http://a-r-r-i.blog.friendster.com/2008/02/penyalahgunaan-obat-terlarang-di-kalangan-remajapelajar/

6. http://yanrehsos.depsos.go.id/modules.php?name=Content&spa=showpage&pid=9

7. http://ynsuryani.wordpress.com/2008/06/16/permasalahan-narkoba-di-indonesia

8. http://greenhati.blogspot.com/2009/01/narkoba dan barang terlarang.htm

Wayang

WAYANG MERUPAKAN BUDAYA LOKAL YANG
MENJADI KEKAYAAN BUDAYA BANGASA

BAB I
PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan masyarakatnya yang pluralistik mempunyai berbagai macam, bentuk, dan variasi kesenian budaya. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh peradaban budayanya. Seiring dengan perkembangan jaman dan globalisasi, semakin banyak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Generasi muda bangsa kita semakin lupa akan budaya bangsanya sendiri, mereka seakan-akan tertelan arus globalisasi yang lebih mengandalkan teknologi dan melupakan akar budayanya sendiri. Kebudayaan asli seakan-akan hampir punah karena tidak dilestarikan dan semakin tertelan arus perubahan jaman.
Walaupun teknologi di era globalisasi ini merupakan faktor dominan dalam kultur kehidupan manusia masa kini dan juga merupakan ketergantungan yang hebat, namun kita juga harus dapat mewarnai era globalisasi ini dengan dikembangkannya kebudayaan negeri sendiri.
Wayang sebagai salah satu kesenian tradisional leluhur kita yang mempunyai banyak sekali nilai-nilai seni, yang mengandung dasar falsafah hidup dan pengajaran-pengajaran yang bernilai, merupakan kesenian yang unik dan juga merupakan salah satu kekayaan budaya yang seharusnya dapat mulai dilestarikan, karena keberadaannya yang semakin tenggelam dalam era globalisasi. Bukan tidak mungkin dengan menghidupkan kembali kesenian wayang, dapat menjadi ciri khas dan dapat menjadi aset bagi suatu daerah, mengingat nilai kebudayaan wayang adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai, yang diharapkan dapat menciptakan keseimbangan dalam menghadapi persaingan yang jelas akan terjadi pada era pasar perdagangan bebas.
Maka sangatlah penting melestarikan budaya wayang agar dapat menghadirkan kembali suasana tradisional yang mampu menghidupkan, mengembangkan, memelihara dan mempopulerkan wayang di tengah masyarakat, selain untuk memenuhi perkembangan era globalisasi kebudayaan dengan lahirnya generasi muda yang kreatif terhadap nilai-nilai budaya dan memiliki jiwa kompetitif terhadap kesenian baru dan masuknya kebudayaan-kebudayaan asing.























BAB II
PEMBAHASAN

Wayang merupakan hasil, cipta rasa dan karsa manusia Indonesia oleh proses daya spiritual. Nonton pagelaran wayang merupakan proses introspeksi intuitif terhadap simbol-simbol kehidupan disertai pembersihan intelektual dan penyucian moral sehingga mendapatkan pencerahan rohani. Pagelaran wayang memakai logika dongeng tetapi logika itu atas dasar nilai-nilai realitas seharĂ­-hari. Wayang merupakan cermin kehidupan manusia secara kongkrit. Oleh karena itu, filsafat wayang berakar pada realitas nilai-nilai kehidupan di masyarakat Indonesia.
Dalam simbol-simbol yang digelarkan dalam pewayangan dapat memberi gambaran dan pemahaman bagi kita bahwa pagelaran wayang merupakan gambaran Tuhan dalam menciptakan kehidupan manusia dan seisi alamnya. Ruangan kosong tempat pentas wayang melambangkan alam semesta sebelum Tuhan menciptakan kehidupan. Kelir menggambarkan langit, pohon pisang sebagai bumi, blencong sebagai matahari, wayang melambangkan manusia dan mahkluk penghuni dunia lainnya, gamelan dan karawitan menggambarkan irama kehidupan, penonton adalah roh-roh mahkluk Tuhan yang menyaksikan pentas kehidupan manusia. Semua ciptaan Tuhan seisi alam ini hidup dan bergerak sesuai kodrat Tuhan. Tuhan adalah Dzat yang kadim, azali dan abadi. Manusia diciptakan Tuhan dengan simbol gunungan atau "kayon". Kayon menancap ditengah kelir adalah lambang hayat atau hidup, maksudnya sebelum manusia lahir, hidup itu sudah ada. Gunungan dicabut menandakan manusia itu lahir yang dilambangkan pada "jejer" atau adegan pertama, seorang raja hadir dipasewakan agung suatu negara. Perjalanan hidup manusia selanjutnya akan mengikuti alur kodrat lahir, dewasa, tua dan mati sesuai irama hidup dalam pagelaran wayang yaitu pathet 6, 9 dan pathet manyura. Akhir dari pathet manyura adalah "tanceb kayon" sebagai lambang manusia itu mati. Gunungan ditancapkan kembali ditengah kelir yang menandakan manusia mati tetapi hayat tetap ada untuk memasuki hidup setelah mati di alam akherat. Oleh karena itu ketika hidup, manusia hendaknya memahami "sangkan paraning dumadi" dan selalu berusaha "nggayuh kasampurnan" agar hidupnya selamat didunia dan akherat.
Begitu kaya nilai positif yang terkandung dalam seni budaya wayang, lewat tontonan wayang manusia bisa belajar dan memaknai kehidupan seperti yang dilakonkan dalam pewayangan karena dalam pewayangan berusaha memberikan jawaban-jawaban etis terhadap berbagai aspek kehidupan manusia dalam kehidupan pribadi, berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dalam kehidupan pribadi wayang memberikan jawaban berupa etika budi pekerti. Budi pekerti yang tidak sekedar normatif melainkan aplikatif karena disampaikan melalui contoh-contoh dalam pagelaran wayang sehingga tidak indoktrinatif melainkan edukatif. Dalam kehidupan bermasyarakat, wayang mengajukan gagasannya mengenai negara yang ideal, pemimpin yang bijaksana, kehidupan masyarakat yang sejahtera dan sebagainya. Gagasan tersebut antara lain terungkap pada narasi "jejer" pertama dipasewakan agung suatu negara.Dalam setiap lakon wayang yang dipentaskan, pandangan dan jawaban filsafati kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara itu selalu dikemukakan dengan jelas yang sebenarnya mudah diserap oleh para pemirsanya.
Namun sayang budaya wayang sudah mulai ditinggalkan seperti dikutip dalam Koran kompas 17 Juli 2009 dimana Pertunjukan wayang kulit menghadapi masa krisis karena dalam beberapa tahun terakhir pagelaran wayang semakin sepi. Indikasi krisis itu ditunjukkan dengan semakin sepinya tanggapan untuk pementasan wayang kulit secara merata di berbagai daerah.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, situasi dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Masuknya beraneka ragam budaya di tengah masyarakat, tanpa disadari terus menggerus budaya lokal. Budaya wayangpun kini terkesan terpinggirkan. Seharusnya, muatan lokal tadi mampu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Salah satunya adalah popularitas wayang yang semakin jarang dimainkan. Ada perasaan malu, saat sekumpulan ABG duduk di atas tikar sembari menyaksikan pementasan wayang yang dimainkan dalang. Mereka menganggap wayang adalah tontonan orang tua. Ironisnya, merupakan sebuah kebanggaan jika sekumpulan ABG bisa berjingkrak-jingkrak di tengah lapangan, sembari mengikuti dentuman musik yang dibawakan grup band idola mereka. Fenomena seperti ini, disadari atau tidak terus bergulir seiring berjalannya waktu dan menyisakan banyak pertanyaan. Apakah wayang masih bisa dipertahankan atau akan menjadi sejarah. Bahkan yang paling menakutkan adalah warisan yang seharusnya kita jaga bersama akan diakui negara lain yang sekarang marak, dimana akhir-akhir ini budaya kita banyak diklaim oleh Negara tetangga yaitu Malaysia.
Memang untuk menyaksikan pementasan wayang, selain dibutuhkan waktu yang panjang hingga semalam suntuk, dibutuhkan pula kejelian membaca berbagai pesan yang disampaikan dalang dalam gerak maupun cerita yang dibawakan. Tidak hanya itu, pementasan wayang yang mayoritas penontonnya adalah orang tua diakuinya semakin membuat jarak antara generasi muda secara umum untuk bisa menjadi penerus tongkat estafet dalam melestarikan budaya daerah yang dimiliki. Tetapi, kondisi tersebut bukan berarti anak muda menjadi acuh terhadap budaya sendiri. Tidak ada salahnya kaum muda penggemari musik pop, rock, dangdut dan sebagainya. Namun sudah seyogyanya tetap mencintai kesenian daerah sehingga terjadi keseimbangan , yang justru akan memperkaya khasanah budaya yang ada sehingga regenerasi bisa berjalan dengan baik.
Untuk melestarikan dunia pewayangan dibutuh dukungan semua pihak bagaimana ke depan wayang bisa dilestarikan secara turun temurun, khususnya untuk menghadapi tantangan global. Tantangan global bukanlah halangan bagi dunia pewayangan, tapi bagaimana menjadikan budaya wayang dan budaya modern agar bisa berbaur, seiring, dan saling melengkapi. Untuk itu, diperlukan sejumlah terobosan baru agar budaya pewayangan dikemas berbeda dan menarik generasi muda yang saat ini lebih cenderung memilih budaya modern sebagai trend budaya mereka. Wayang tidak tabu dengan teknologi, oleh sebab itu inovasi terhadap wayang bukanlah menjadi masalah, misal dengan menambahkan unsur teknologi seperti menyertakan proyektor atau teknologi lainnya pada pentas wayang.
Dalam melestarikan budaya wayang bidang pendidikan sangat strategis untuk mempertahankan khasanah budaya dengan memberi ekstrakurikuler seperti gending, menari dan kesenian yang lain. Langkah ini menjadi salah satu modal agar generasi muda sejak usia dini bisa mengenal dan mempelajari kesenian secara universal, yang nantinya akan lebih spesifik karena untuk bisa memahami dan memainkan sebuah kesenian membutuhkan proses yang tidak singkat.















BAB III
KESIMPULAN

Kebudayaan dan seni adalah suatu yang tak ternilai harganya. Masyarakat Indonesia seharusnya dapat lebih menghargai seluruh budaya yang ada di Negara ini. Wayang merupakan salah satu bagian dari kesenian asli bangsa kita. Namun demikian cerita-cerita pewayangan belakangan ini memang kurang diminati dan ditinggalkan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Budaya wayang dan kesenian tradisional lainnya dianggap kuno dan tidak menarik.
Mestinya kita patut bangga bahwa wayang telah diakui dunia sebagai mahakarya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi. Warisan kebudayaan tersebut dinilai sangat indah dan berharga. Itu berarti wayang telah menjadi salah satu warisan lokal yang diakui dunia untuk dilestarikan. Dengan begitu, masyarakat diharapkan mau ikut serta memelihara, melestarikan, dan mengembangkan warisan budayanya, baik yang menyangkut pengetahuan maupun apresiasi kebudayaan tradisional. Ini dimaksudkan supaya wayang akan selalu terjaga sebagai warisan kebudayaan Indonesia.
Agar kesenian wayang tetap lestari di Tanah Air, kita harus mencintai, menghargai, dan menjaganya sebaik mungkin, sehingga diharapkan pengakuan dunia terhadap keberadaan wayang dapat menyadarkan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, untuk mencintai dan selalu melestarikan kesenian tradisional Indonesia. Dunia pendidikan adalah sarana yang efektif untuk menjaga dan melestarikan wayang yaitu melalui penididikan apresiasi seni di sekolah-sekolah atau kegiatn ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah
Pemerintah Indonesia diharapkan untuk terus mendukung dan melestarikan budaya tanah air, diantaranya adalah kesenian wayang, karena kesenian wayang secara tidak langsung mengajarkan kepada kita, khususnya untuk generasi muda, nilai-nilai positif tentang perbuatan baik dan salah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Keputusan Konggres pewayangan “www.eastern/yogya.com./Web/Id.
2. Petra Christian Univercity- wayang “ Http:/petrachristianlibrary-jiunkpes ars-2002-22497106-88769-wayang-jawa-chapter-id.
3. www.radaltegal.com
4. Wayang-ku”www.wayangku-wordpress.com
5. Warisan Budaya untuk semua”http://arkeologi.ugm.ac.id
6. Museum wayang di Yogyakarta”,www.wayangku.wordpress.com

Jumat, 07 Januari 2011

TUGAS EKONOMI 2 ( PEMBAGIAN SHU )

PEMBAGIAN SHU KOPERASI ELISABETH

Besarnya simpanan dan pendapatan sesuai dengan perjalanan kegiatan Koperasi Kredit Elisabeth dapat dilihat pada laporan keuangan berikut.

Uang administrasi : Rp. 430,000.-
Uang pangkal : Rp. 860,000.-
Simpanan pokok : Rp. 860,000.-
Simpanan wajib : Rp. 8.665,000.-
Simpanan sukarela : Rp. 31,275,500.-
Total dana simpanan Rp. 42,090,500.-
Pendapatan bunga pinjaman : Rp. 10.199.057.-
Denda keterlambatan pengembalian : Rp. 1.050.456.-
Total simpanan dan bunga/denda Rp. 53.340.013.-

( 53.340.013 – 42,090,500 )
Prosentase keuntungan tahun 2009 : ----------------------------- = 26,7%
42,090,500

Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Koperasi :

A. Pendapatan :
Bunga dan denda : Rp. 11.249.513.-

B. Pengeluaran :
Pembelian buku anggota & KSPA : Rp. 830,000.-
Pembelian kuitansi : Rp. 25,000.-
Biaya pelatihan : Rp. 275,000.-
Total pengeluaran : Rp. 1.130,000.-

Sisa Hasil Usaha : Rp. 11.249.513. - Rp. 1,130,000.-
= Rp. 10.119.513.-
Penggunaan sisa hasil usaha:
Hasil keputusan rapat pengurus KKE telah memutuskan bahwa penggunaan dana sisa hasil usaha koperasi adalah sebagai berikut :
1. Dibagi ke anggota (deviden) : 40%
2. Jasa Modal : 20 %
3. Dana sosial : 10%
4. Dana pendidikan & pengembangan : 10%
5. Dana pengurus : 20%

Dana yang dibagi ke anggota : Rp. 4.047.805,-

Dana sosial : Rp. 1.011.951.-
Digunakan untuk bantuan sosial misalnya kebutuhan mendadak, bencana alam, kematian atau hal lain yang bertujuan untuk kegiatan sosial.

Dana pendidikan & pengembangan : Rp. 1.011.951.-
Digunakan untuk pengembangan koperasi antara lain pelatihan anggota, renovasi, seminar, studi banding, dll.

Dana pengurus : Rp. 2.023.902.-
Digunakan untuk kegiatan pengurus seperti, biaya rapat, biaya perjalanan, biaya pembuatan laporan, jasa pengurus dan biaya-biaya lain yang terkait dengan kegiatan pengurus.





DAFTAR PENDAPATAN / PENERIMAAN KOPERASI PERIODE AGUSTUS S/D 15 SEPTEMBER 2009


NO NAMA ANGGOTA Tgl TOTAL Bunga &
Daftar SAHAM Denda
1 Elizabeth dyah Atawati 5/8/07 680,000 330,000
2 Santoso Soemidjo 19/09/07 757,500 394,207
3 dr. Suharty 19/09/07 3,800,000 130,000
4 dr. Monika Indah 19/09/07 520,000 454,000
5 dr. joko Siswoyo 21/09/07 705,000 360,000
6 dr. Judono 21/09/07 350,000 50,000
7 Jenni Girsang 21/09/07 700,000 200,500
8 dr. lucia Magdalena 22/09/07 80,000 0
9 dr. Fianna SpA 1/10/07 300,000 0
10 Aluwisya Trisiana 3/10/07 754,000 377,618
11 Sri Wahyuni 3/10/07 320,000 0
12 dr. Stefanus Eke Ola 4/10/07 450,000 0
13 Markus Moat ( Oncu ) 1/11/07 800,000 91,000
14 Heru Prasetyo 1/11/07 1,710,000 581,000
15 Regina Shinta 12/11/07 475,000 37,000
16 Julius S 12/11/07 400,000 364,000
17 Indriani Wilujeng 13/11/07 650,000 225,630
18 Susmoro 4/12/08 1,087,000 489,600
19 T.S Wulandari 13/12/07 1,075,000 296,000
20 Paulus Gunawan 13/12/07 188,000 205,500
21 Cynthia Evi Y 13/12/07 1,115,000 6,000
22 Petrus Doni Karno 14/12/07 515,000 0
23 yophita U 1/2/08 129,000 32,000
24 Widayat Wikanto 2/2/08 215,000 300,000
25 Teresia Mulni 1/4/08 190,000 0
26 Betharia Roulina S 1/4/08 1,261,000 227,000
27 Joko Samudro 1/4/08 168,000 52,700
28 Wahyu Nugroho 3/6/08 100,000 13,000
29 Wiwik Trimulatsih 5/6/08 550,000 126,000
30 Budhiyanto 4/7/08 845,000 205,000
31 Gustut N 7/7/08 1,125,000 243,000
32 Antonius A. Rudianto 3/9/08 655,000 16,000
33 Butet Bunga R 3/9/08 665,000 657,000
34 Taufan Dimas P 3/9/08 280,000 45,000
35 Yosefa R . Sariyanti 3/9/08 860,000 388,000
36 Maria Kristiani 6/9/08 446,000 4,000
37 Anna Widayanti 6/9/08 1,015,000 170,000
38 Veronica Rusminah 25/9/08 415,000 22,000
39 Sri Erna 7/10/08 195,000 61,500
40 B. Puji L 16/10/08 625,000 0
41 V. Pentri C . S 9/10/08 40,000 0
42 Dewi Wahyu Anisa 1/11/08 855,000 38,000
43 Agus Taufiq Hidayah 1/11/08 100,000 10,000
44 Diana Sihombing 3/11/08 490,000 80,000
45 Diah Arum Miranti 3/11/08 465,000 30,000
46 Maria Magdalena Hartuti 3/11/08 380,000
47 Kiki Lestari 7/11/08 50,000 10,000
48 Teresia Krismawaty 19/11/08 280,000 70,000
49 Warsih 2/12/08 375,000 60,000
50 N. Budi Raharjo 3/12/08 565,000 73,750
51 Fransine Irene D. 5/12/08 50,000 0
52 Puri Anngraeny 6/12/08 125,000 0
53 Anita Ramaningsih 6/12/08 590,000 396,500
54 Setyaningsih 3/1/09 430,000 0
55 Lusia Sri Rahayu 3/1/09 500,000 0
56 Michael Heryanto 3/1/09 450,000 0
57 Dewi Kristianti 12/1/09 520,000 54,000
58 Anang Subramadi 30/01/09 50,000 0
59 Kasroni 30/01/09 400,000 102,000
60 Yohanis Nong H 30/01/09 500,000 34,000
61 Djulaeha 31/01/09 210,000 12,000
62 Frans Pedis 31/01/09 610,000 68,200
63 Randi Ruhendi 2/2/2009 1,200,000 56,000
64 Sugeng Priyanto 09/02/09 105,000 164,000
65 Sinta Palebangan 02/03/09 915,000 66,000
66 Nelson Sarodja 03/03/09 370,000 24,000
67 Asri Kawuri 05/03/09 380,000 74,000
68 Moksalina 07/03/09 465,000 60,000
69 Nadia Nurestiari 14/4/2009 65,000 52,308
70 Letitia Bernadeta 05/05/09 850,000 0
71 Andreas Abar 01/06/09 240,000 110,000
72 E. Fera Narulita 04/06/09 150,000 632,500
73 Yuhana S. 05/06/09 105,000 32,000
74 Andri Sutrisno 01/07/09 150,000 229,000
75 Paulus Bernadus 01/07/09 100,000 0
76 Mastiur Eureka S. 01/07/09 375,000 0
77 Lina Juwita 07/07/09 150,000 79,000
78 Agustinus Setyo 31/07/09 300,000 46,000
79 Epiphana Esty 01/08/09 50,000 180,000
80 Kriswanto 11/08/09 165,000 168,000
81 Heru Widiyanto 31/08/09 115,000 15,000
82 Yakobus Tulus 31/08/09 120,000 108,000
83 Siswanto Budi U. 02/09/09 200,000 292,000
84 Julen Tamonob 02/09/09 165,000 158,000
85 Wilhelmina Rosmayati 03/09/09 50,000 201,000
86 Andi Irfan M. 14/09/09 100,000 310,000
42,090,500 11,249,513



PERHITUNGAN SHU
SHU …………………………………………………………………………………Rp 10.119.511,-
- Dibagi ke anggota (deviden) : 40% x Rp 10.119.513,- = Rp. 4.047.805,-
- Jasa Modal : 20 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 2.023.902,-
- Dana Sosial : 10 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 1.011.951,-
- Dana pend & pengembangan : 10 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 1.011.951,-
- Dana Pengurus : 20 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 2.023.902,-
(Rp.10.119.511,-)
0
Jasa Modal : 2.023.902
42.090.500

Jasa Anggota : 4.047.805
11.249.513

PEMBAGIAN SHU ANGGOTA KOPERASI ELISABETH
1. Elisabeth Diah 4,8 % x 680.000 = 32.640
3,6% x 330.000 = 11.880
44.520
2. Santoso Sumijo 4,8% x 757.500 = 35.880
3,6% x 394.207 = 14.191
50.071
3. Dr. Suharti M 4,8% x 3.800.000 = 182.400
3,6% x 130.000 = 4.680
187.080
4. Dr. Monika I 4,8% x 520.000 = 24.960
3,6% x 454.000 = 16.344
41.404
5. Dr. Joko S 4,8% x 705.000 = 33.840
3,6% x 360.000 = 12.960
46.800
6. Dr. Judono 4.8% x 350.000 = 16.800
3,6% x 50.000 = 1.800
18.600
7. Jenni G 4,8% x 700.000 = 33.600
3,6% x 200.500 = 7.218
40.018
8. Dr. Luciana M 4,8% x 80.000 = 3.840
3,6% x 0 = 0
3.840
9. Dr. Fiana 4,8% x 300.000 = 14.400
3,6% x 0 = 0
14.400
10. Aluwisya T 4,8% x 757.000 = 36.336
3,6% x 377.618 = 13.594
49.900
11. Sri wahyuni 4,8% x 320.000 = 15.360
3,6% x 0 = 0
15.360

12. Dr. Stefanus 4,8% x 450.000 = 21.600
3,6% x 0 = 0
21.600
13. Markus Moat 4,8% x 800.000 = 38.400
3,6% x 91.000 = 3.276
41.676
14. Heru P 4,8% x 1.710.000 = 82.080
3,6% x 581.000 = 20.916
102.996
15. Regina Shinta 4,8% x 475.000 = 22.800
3,6% x 37.000 = 1.332
24.132
16. Julius 4,8% x 400.000 = 19.200
3,6% x 364.000 = 13.104
32.304
17. Indri W 4,8% x 650.000 = 31.200
3,6% x 225.630 = 8.122
39.322
18. Susmoro 4,8% x 1.087.000 = 52.176
3,6% x 489.600 = 17.625
69.801
19. Wulandari 4,8% x 1.750.000 = 84.000
3,6% x 296.000 = 10.656
94.656
20. P. Gunawan 4,8% x 188.000 = 9.024
3,6% x 205.500 = 7.398
16.422
21. Cyintia Evi 4,8% x 1.115.000 = 53.520
3,6% x 6.000 = 216
53.736
22. Petrus Doni Karno 4,8% x 515.000 = 24.720
3,6% x 0 = 0
24.720
23. Yophita 4,8% x 129.000 = 6.192
3,6% x 32.000 = 1.152
7.344
24. Widayat W 4,8% x 215.000 = 10.320
3,6% x 300.000 = 10.800
21.120
25. Theresia M 4,8% x 190.000 = 9.120
3,6% x 0 = 0
9.120
26. Betharia 4,8% x 1.261.000 = 60.480
3,6% x 227.000 = 8.172
68.652
27. Joko Samudra 4,8% x 168.000 = 8.064
3,6% x 52.700 = 1.897
9.961
28. Wahyu N 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 13.000 = 468
5.268
29. Wiwik Trimularsih 4,8% x 550.000 = 26.400
3,6% x 126.000 = 4.536
30.936
30. Budhiyanto 4,8% x 845.000 = 40.560
3,6% x 205.000 = 7.380
47.940
31. Gustut 4,8% x 1.125.000 = 54.000

3,6% x 243.000 = 8.748
62.746
32. Antonius R 4,8% x 655.000 = 31.440
3,6% x 16.000 = 576
79.956
33. Butet Bunga 4,8% x 665.000 = 31.920
3,6% x 657.000 = 23.652
55.572
34. Taufan D 4,8% x 280.000 = 13.440
3,6% x 45.000 = 1.620
15.060
35. Yosefa 4,8% x 860.000 = 41.280
3,6% x 388.000 = 13.968
55.248
36. Maria K 4,8% x 446.000 = 21.408
3,6% x 4.000 = 144
21.552
37. Ann W 4,8% x 1.015.000 = 48.720
3,6% x 170.000 = 6.120
54.840
38. Veronika R 4,8% x 415.000 = 19.920
3,6% x 22.000 = 792
20.712
39. Sri Erna 4,8% x 195.000 = 9.360
3,6% x 61.500 = 2.214
11.574
40. B. Pudji 4,8% x 625.000 = 30.000
3,6% x 0 = 0
30.000
41. V. pentrii 4,8% x 40.000 = 1.920
3,6% x 0 = 0
1.920
42. Dwi Wahyu 4,8% x 855.000 = 41.040
3,6% x 38.000 = 1.368
42.408
43. Agus Taufik 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 10.000 = 360
5.160
44. Diana Sihobing 4,8% x 490.000 = 23.520
3,6% x 80.000 = 2.880
26.400
45. Diah Arum 4,8% x 465.000 = 22.320
3,6% x 30.000 = 1.080
23.400
46. MM Hartuti 4,8% x 380.000 = 18.240
3,6% x 0 = 0
18.240
47. Kiki Lestari 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 10.000 = 360
2.760
48. Th Krismawati 4,8% x 280.000 = 13.440
3,6% x 70.000 = 2.520
15.960
49. Warsih 4.8% x 375.000 = 18.000
3.6% x 60.000 = 2.160
20.160

50. Budi Raharjo 4,8% x 565.000 = 27.120
3,6% x 73.750 = 2.655
29.775
51. Fr. Irinei 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 0 = 0
2.400
52. Puri Anggraeni 4,8% x 125.000 = 6.000
3,6% x 0 = 0
6.000
53. Anita R 4,8% x 590.000 = 28.320
3,6% x 396.500 = 14.274
42.594
54. Setyaningsih 4,8% x 430.000 = 20.640
3,6% x 0 = 0
20.640
55. Lusia Sri R 4,8% x 500.000 = 24.000
3,6% x 0 = 0
24.000
56. Michael H 4,8% x 450.000 = 21.600
3,6% x 0 = 0
21.600
57. Dewi K 4,8% x 520.000 = 24.960
3,6% x 54.000 = 1.944
26.904
58. Anang S 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 0 = 0
2.400
59. Kasroni 4,8% x 400.000 = 19.200
3,6% x 102.000 = 3.672
22.872
60. Yohanes Nong 4,8% x 500.000 = 24.000
3,6% x 34.000 = 1.224
25.224
61. Djuleha 4,8% x 210.000 = 10.080
3,6% x 12.000 = 432
10.513
62. Frans Pedis 4,8% x 610.000 = 29.280
3,6% x 68.200 = 2.455
31.735
63. Randi R 4,8% x 1.200.000 = 57.600
3,6% x 56.000 = 2.016
59.616
64. Sugeng priyanto 4,8% x 105.000 = 5.040
3,6% x 164.000 = 5.904
10.946
65. Shinta P 4,8% x 915.000 = 43.920
3,6% x 66.000 = 2.376
46.296
66. Nelson Saroja 4,8% x 370.000 = 17.760
3,6% x 24.000 = 864
18.624
67. Asri Kawuri 4,8% x 380.000 = 18.240
3,6% x 74.000 = 2.664
20.904
68. Moksalina 4,8% x 465.000 = 22.320
3,6% x 60.000 = 2.160
24.480
69. Nadia N 4,8% x 65.000 = 3.120

3,6% x 52.308 = 1.883
5.093
70. Letita Bernadet 4,8% x 850.000 = 40.800
3,6% x 0 = 0
40.800
71. Andreas Abar 4,8% x 240.000 = 11.520
3,6% x 110.000 = 3.960
15.480
72. Fera Narulita 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 632.500 = 22.770
29.970
73. Yuhana 4,8% x 105.000 = 5.040
3,6% x 32.000 = 1.152
6.192
74. Andri Sutrisno 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 229.000 = 8.244
15.444
75. Paullus B 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 0 = 0
4.800
76. Mustiur Eureke 4,8% x 375.000 = 18.000
3,6% x 0 = 0
18.000
77. Lina Juwita 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 79.000 = 2.844
10.044
78. Agustinus setyo 4,8% x 300.000 = 14.400
3,6% x 46.000 = 1.656
16.056

79. Epiphana Esty 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 180.000 = 6.480
8.880
80. Kriswanto 4,8% x 165.000 = 7.920
3,6% x 168.000 = 6.048
13.968
81. Heru Widiysnto 4,8% x 115.000 = 5.520
3,6% x 15.000 = 5.400
10.920
82. Yakobus Tulus 4,8% x 120.000 = 5.760
3,6% x 108.000 = 3.888
9.648
83. Siswanto Budi 4,8% x 200.000 = 9.600
3,6% x 292.000 = 10.512
20.112
84. Julen Tamoho 4,8% x 165.000 = 7.920
3,6% x 158.000 = 5.688
13.608
85. Wilhelmina R 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 201.000 = 7.236
9.636
86. Andri Irfan 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 310.000 = 11.160
15.960

Kamis, 06 Januari 2011

TUGAS EKONOMI 2 ( PEMBAGIAN SHU )

PEMBAGIAN SHU KOPERASI ELISABETH

Besarnya simpanan dan pendapatan sesuai dengan perjalanan kegiatan Koperasi Kredit Elisabeth dapat dilihat pada laporan keuangan berikut.

Uang administrasi : Rp. 430,000.-
Uang pangkal : Rp. 860,000.-
Simpanan pokok : Rp. 860,000.-
Simpanan wajib : Rp. 8.665,000.-
Simpanan sukarela : Rp. 31,275,500.-
Total dana simpanan Rp. 42,090,500.-
Pendapatan bunga pinjaman : Rp. 10.199.057.-
Denda keterlambatan pengembalian : Rp. 1.050.456.-
Total simpanan dan bunga/denda Rp. 53.340.013.-

( 53.340.013 – 42,090,500 )
Prosentase keuntungan tahun 2009 : ----------------------------- = 26,7%
42,090,500

Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Koperasi :

A. Pendapatan :
Bunga dan denda : Rp. 11.249.513.-

B. Pengeluaran :
Pembelian buku anggota & KSPA : Rp. 830,000.-
Pembelian kuitansi : Rp. 25,000.-
Biaya pelatihan : Rp. 275,000.-
Total pengeluaran : Rp. 1.130,000.-

Sisa Hasil Usaha : Rp. 11.249.513. - Rp. 1,130,000.-
= Rp. 10.119.513.-
Penggunaan sisa hasil usaha:
Hasil keputusan rapat pengurus KKE telah memutuskan bahwa penggunaan dana sisa hasil usaha koperasi adalah sebagai berikut :
1. Dibagi ke anggota (deviden) : 40%
2. Jasa Modal : 20 %
3. Dana sosial : 10%
4. Dana pendidikan & pengembangan : 10%
5. Dana pengurus : 20%

Dana yang dibagi ke anggota : Rp. 4.047.805,-

Dana sosial : Rp. 1.011.951.-
Digunakan untuk bantuan sosial misalnya kebutuhan mendadak, bencana alam, kematian atau hal lain yang bertujuan untuk kegiatan sosial.

Dana pendidikan & pengembangan : Rp. 1.011.951.-
Digunakan untuk pengembangan koperasi antara lain pelatihan anggota, renovasi, seminar, studi banding, dll.

Dana pengurus : Rp. 2.023.902.-
Digunakan untuk kegiatan pengurus seperti, biaya rapat, biaya perjalanan, biaya pembuatan laporan, jasa pengurus dan biaya-biaya lain yang terkait dengan kegiatan pengurus.





DAFTAR PENDAPATAN / PENERIMAAN KOPERASI PERIODE AGUSTUS S/D 15 SEPTEMBER 2009


NO NAMA ANGGOTA Tgl TOTAL Bunga &
Daftar SAHAM Denda
1 Elizabeth dyah Atawati 5/8/07 680,000 330,000
2 Santoso Soemidjo 19/09/07 757,500 394,207
3 dr. Suharty 19/09/07 3,800,000 130,000
4 dr. Monika Indah 19/09/07 520,000 454,000
5 dr. joko Siswoyo 21/09/07 705,000 360,000
6 dr. Judono 21/09/07 350,000 50,000
7 Jenni Girsang 21/09/07 700,000 200,500
8 dr. lucia Magdalena 22/09/07 80,000 0
9 dr. Fianna SpA 1/10/07 300,000 0
10 Aluwisya Trisiana 3/10/07 754,000 377,618
11 Sri Wahyuni 3/10/07 320,000 0
12 dr. Stefanus Eke Ola 4/10/07 450,000 0
13 Markus Moat ( Oncu ) 1/11/07 800,000 91,000
14 Heru Prasetyo 1/11/07 1,710,000 581,000
15 Regina Shinta 12/11/07 475,000 37,000
16 Julius S 12/11/07 400,000 364,000
17 Indriani Wilujeng 13/11/07 650,000 225,630
18 Susmoro 4/12/08 1,087,000 489,600
19 T.S Wulandari 13/12/07 1,075,000 296,000
20 Paulus Gunawan 13/12/07 188,000 205,500
21 Cynthia Evi Y 13/12/07 1,115,000 6,000
22 Petrus Doni Karno 14/12/07 515,000 0
23 yophita U 1/2/08 129,000 32,000
24 Widayat Wikanto 2/2/08 215,000 300,000
25 Teresia Mulni 1/4/08 190,000 0
26 Betharia Roulina S 1/4/08 1,261,000 227,000
27 Joko Samudro 1/4/08 168,000 52,700
28 Wahyu Nugroho 3/6/08 100,000 13,000
29 Wiwik Trimulatsih 5/6/08 550,000 126,000
30 Budhiyanto 4/7/08 845,000 205,000
31 Gustut N 7/7/08 1,125,000 243,000
32 Antonius A. Rudianto 3/9/08 655,000 16,000
33 Butet Bunga R 3/9/08 665,000 657,000
34 Taufan Dimas P 3/9/08 280,000 45,000
35 Yosefa R . Sariyanti 3/9/08 860,000 388,000
36 Maria Kristiani 6/9/08 446,000 4,000
37 Anna Widayanti 6/9/08 1,015,000 170,000
38 Veronica Rusminah 25/9/08 415,000 22,000
39 Sri Erna 7/10/08 195,000 61,500
40 B. Puji L 16/10/08 625,000 0
41 V. Pentri C . S 9/10/08 40,000 0
42 Dewi Wahyu Anisa 1/11/08 855,000 38,000
43 Agus Taufiq Hidayah 1/11/08 100,000 10,000
44 Diana Sihombing 3/11/08 490,000 80,000
45 Diah Arum Miranti 3/11/08 465,000 30,000
46 Maria Magdalena Hartuti 3/11/08 380,000
47 Kiki Lestari 7/11/08 50,000 10,000
48 Teresia Krismawaty 19/11/08 280,000 70,000
49 Warsih 2/12/08 375,000 60,000
50 N. Budi Raharjo 3/12/08 565,000 73,750
51 Fransine Irene D. 5/12/08 50,000 0
52 Puri Anngraeny 6/12/08 125,000 0
53 Anita Ramaningsih 6/12/08 590,000 396,500
54 Setyaningsih 3/1/09 430,000 0
55 Lusia Sri Rahayu 3/1/09 500,000 0
56 Michael Heryanto 3/1/09 450,000 0
57 Dewi Kristianti 12/1/09 520,000 54,000
58 Anang Subramadi 30/01/09 50,000 0
59 Kasroni 30/01/09 400,000 102,000
60 Yohanis Nong H 30/01/09 500,000 34,000
61 Djulaeha 31/01/09 210,000 12,000
62 Frans Pedis 31/01/09 610,000 68,200
63 Randi Ruhendi 2/2/2009 1,200,000 56,000
64 Sugeng Priyanto 09/02/09 105,000 164,000
65 Sinta Palebangan 02/03/09 915,000 66,000
66 Nelson Sarodja 03/03/09 370,000 24,000
67 Asri Kawuri 05/03/09 380,000 74,000
68 Moksalina 07/03/09 465,000 60,000
69 Nadia Nurestiari 14/4/2009 65,000 52,308
70 Letitia Bernadeta 05/05/09 850,000 0
71 Andreas Abar 01/06/09 240,000 110,000
72 E. Fera Narulita 04/06/09 150,000 632,500
73 Yuhana S. 05/06/09 105,000 32,000
74 Andri Sutrisno 01/07/09 150,000 229,000
75 Paulus Bernadus 01/07/09 100,000 0
76 Mastiur Eureka S. 01/07/09 375,000 0
77 Lina Juwita 07/07/09 150,000 79,000
78 Agustinus Setyo 31/07/09 300,000 46,000
79 Epiphana Esty 01/08/09 50,000 180,000
80 Kriswanto 11/08/09 165,000 168,000
81 Heru Widiyanto 31/08/09 115,000 15,000
82 Yakobus Tulus 31/08/09 120,000 108,000
83 Siswanto Budi U. 02/09/09 200,000 292,000
84 Julen Tamonob 02/09/09 165,000 158,000
85 Wilhelmina Rosmayati 03/09/09 50,000 201,000
86 Andi Irfan M. 14/09/09 100,000 310,000
42,090,500 11,249,513



PERHITUNGAN SHU
SHU …………………………………………………………………………………Rp 10.119.511,-
- Dibagi ke anggota (deviden) : 40% x Rp 10.119.513,- = Rp. 4.047.805,-
- Jasa Modal : 20 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 2.023.902,-
- Dana Sosial : 10 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 1.011.951,-
- Dana pend & pengembangan : 10 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 1.011.951,-
- Dana Pengurus : 20 % x Rp 10.119.513,- = Rp. 2.023.902,-
(Rp.10.119.511,-)
0
Jasa Modal : 2.023.902
42.090.500

Jasa Anggota : 4.047.805
11.249.513

PEMBAGIAN SHU ANGGOTA KOPERASI ELISABETH
1. Elisabeth Diah 4,8 % x 680.000 = 32.640
3,6% x 330.000 = 11.880
44.520
2. Santoso Sumijo 4,8% x 757.500 = 35.880
3,6% x 394.207 = 14.191
50.071

3. Dr. Suharti M 4,8% x 3.800.000 = 182.400
3,6% x 130.000 = 4.680
187.080
4. Dr. Monika I 4,8% x 520.000 = 24.960
3,6% x 454.000 = 16.344
41.404
5. Dr. Joko S 4,8% x 705.000 = 33.840
3,6% x 360.000 = 12.960
46.800
6. Dr. Judono 4.8% x 350.000 = 16.800
3,6% x 50.000 = 1.800
18.600
7. Jenni G 4,8% x 700.000 = 33.600
3,6% x 200.500 = 7.218
40.018
8. Dr. Luciana M 4,8% x 80.000 = 3.840
3,6% x 0 = 0
3.840
9. Dr. Fiana 4,8% x 300.000 = 14.400
3,6% x 0 = 0
14.400
10. Aluwisya T 4,8% x 757.000 = 36.336
3,6% x 377.618 = 13.594
49.900
11. Sri wahyuni 4,8% x 320.000 = 15.360
3,6% x 0 = 0
15.360

12. Dr. Stefanus 4,8% x 450.000 = 21.600
3,6% x 0 = 0
21.600
13. Markus Moat 4,8% x 800.000 = 38.400
3,6% x 91.000 = 3.276
41.676
14. Heru P 4,8% x 1.710.000 = 82.080
3,6% x 581.000 = 20.916
102.996
15. Regina Shinta 4,8% x 475.000 = 22.800
3,6% x 37.000 = 1.332
24.132
16. Julius 4,8% x 400.000 = 19.200
3,6% x 364.000 = 13.104
32.304
17. Indri W 4,8% x 650.000 = 31.200
3,6% x 225.630 = 8.122
39.322
18. Susmoro 4,8% x 1.087.000 = 52.176
3,6% x 489.600 = 17.625
69.801
19. Wulandari 4,8% x 1.750.000 = 84.000
3,6% x 296.000 = 10.656
94.656
20. P. Gunawan 4,8% x 188.000 = 9.024
3,6% x 205.500 = 7.398
16.422
21. Cyintia Evi 4,8% x 1.115.000 = 53.520
3,6% x 6.000 = 216
53.736
22. Petrus Doni Karno 4,8% x 515.000 = 24.720
3,6% x 0 = 0
24.720
23. Yophita 4,8% x 129.000 = 6.192
3,6% x 32.000 = 1.152
7.344
24. Widayat W 4,8% x 215.000 = 10.320
3,6% x 300.000 = 10.800
21.120
25. Theresia M 4,8% x 190.000 = 9.120
3,6% x 0 = 0
9.120
26. Betharia 4,8% x 1.261.000 = 60.480
3,6% x 227.000 = 8.172
68.652
27. Joko Samudra 4,8% x 168.000 = 8.064
3,6% x 52.700 = 1.897
9.961
28. Wahyu N 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 13.000 = 468
5.268
29. Wiwik Trimularsih 4,8% x 550.000 = 26.400
3,6% x 126.000 = 4.536
30.936
30. Budhiyanto 4,8% x 845.000 = 40.560
3,6% x 205.000 = 7.380
47.940
31. Gustut 4,8% x 1.125.000 = 54.000
3,6% x 243.000 = 8.748
62.746
32. Antonius R 4,8% x 655.000 = 31.440
3,6% x 16.000 = 576
79.956
33. Butet Bunga 4,8% x 665.000 = 31.920
3,6% x 657.000 = 23.652
55.572
34. Taufan D 4,8% x 280.000 = 13.440
3,6% x 45.000 = 1.620
15.060
35. Yosefa 4,8% x 860.000 = 41.280
3,6% x 388.000 = 13.968
55.248
36. Maria K 4,8% x 446.000 = 21.408
3,6% x 4.000 = 144
21.552
37. Ann W 4,8% x 1.015.000 = 48.720
3,6% x 170.000 = 6.120
54.840
38. Veronika R 4,8% x 415.000 = 19.920
3,6% x 22.000 = 792
20.712
39. Sri Erna 4,8% x 195.000 = 9.360
3,6% x 61.500 = 2.214
11.574
40. B. Pudji 4,8% x 625.000 = 30.000
3,6% x 0 = 0
30.000

41. V. pentrii 4,8% x 40.000 = 1.920
3,6% x 0 = 0
1.920
42. Dwi Wahyu 4,8% x 855.000 = 41.040
3,6% x 38.000 = 1.368
42.408
43. Agus Taufik 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 10.000 = 360
5.160
44. Diana Sihobing 4,8% x 490.000 = 23.520
3,6% x 80.000 = 2.880
26.400
45. Diah Arum 4,8% x 465.000 = 22.320
3,6% x 30.000 = 1.080
23.400
46. MM Hartuti 4,8% x 380.000 = 18.240
3,6% x 0 = 0
18.240
47. Kiki Lestari 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 10.000 = 360
2.760
48. Th Krismawati 4,8% x 280.000 = 13.440
3,6% x 70.000 = 2.520
15.960
49. Warsih 4.8% x 375.000 = 18.000
3.6% x 60.000 = 2.160
20.160

50. Budi Raharjo 4,8% x 565.000 = 27.120
3,6% x 73.750 = 2.655
29.775
51. Fr. Irinei 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 0 = 0
2.400
52. Puri Anggraeni 4,8% x 125.000 = 6.000
3,6% x 0 = 0
6.000
53. Anita R 4,8% x 590.000 = 28.320
3,6% x 396.500 = 14.274
42.594
54. Setyaningsih 4,8% x 430.000 = 20.640
3,6% x 0 = 0
20.640
55. Lusia Sri R 4,8% x 500.000 = 24.000
3,6% x 0 = 0
24.000
56. Michael H 4,8% x 450.000 = 21.600
3,6% x 0 = 0
21.600
57. Dewi K 4,8% x 520.000 = 24.960
3,6% x 54.000 = 1.944
26.904
58. Anang S 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 0 = 0
2.400
59. Kasroni 4,8% x 400.000 = 19.200
3,6% x 102.000 = 3.672
22.872
60. Yohanes Nong 4,8% x 500.000 = 24.000
3,6% x 34.000 = 1.224
25.224
61. Djuleha 4,8% x 210.000 = 10.080
3,6% x 12.000 = 432
10.513
62. Frans Pedis 4,8% x 610.000 = 29.280
3,6% x 68.200 = 2.455
31.735
63. Randi R 4,8% x 1.200.000 = 57.600
3,6% x 56.000 = 2.016
59.616
64. Sugeng priyanto 4,8% x 105.000 = 5.040
3,6% x 164.000 = 5.904
10.946
65. Shinta P 4,8% x 915.000 = 43.920
3,6% x 66.000 = 2.376
46.296
66. Nelson Saroja 4,8% x 370.000 = 17.760
3,6% x 24.000 = 864
18.624
67. Asri Kawuri 4,8% x 380.000 = 18.240
3,6% x 74.000 = 2.664
20.904
68. Moksalina 4,8% x 465.000 = 22.320
3,6% x 60.000 = 2.160
24.480
69. Nadia N 4,8% x 65.000 = 3.120

3,6% x 52.308 = 1.883
5.093
70. Letita Bernadet 4,8% x 850.000 = 40.800
3,6% x 0 = 0
40.800
71. Andreas Abar 4,8% x 240.000 = 11.520
3,6% x 110.000 = 3.960
15.480
72. Fera Narulita 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 632.500 = 22.770
29.970
73. Yuhana 4,8% x 105.000 = 5.040
3,6% x 32.000 = 1.152
6.192
74. Andri Sutrisno 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 229.000 = 8.244
15.444
75. Paullus B 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 0 = 0
4.800
76. Mustiur Eureke 4,8% x 375.000 = 18.000
3,6% x 0 = 0
18.000
77. Lina Juwita 4,8% x 150.000 = 7.200
3,6% x 79.000 = 2.844
10.044
78. Agustinus setyo 4,8% x 300.000 = 14.400
3,6% x 46.000 = 1.656
16.056

79. Epiphana Esty 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 180.000 = 6.480
8.880
80. Kriswanto 4,8% x 165.000 = 7.920
3,6% x 168.000 = 6.048
13.968
81. Heru Widiysnto 4,8% x 115.000 = 5.520
3,6% x 15.000 = 5.400
10.920
82. Yakobus Tulus 4,8% x 120.000 = 5.760
3,6% x 108.000 = 3.888
9.648
83. Siswanto Budi 4,8% x 200.000 = 9.600
3,6% x 292.000 = 10.512
20.112
84. Julen Tamoho 4,8% x 165.000 = 7.920
3,6% x 158.000 = 5.688
13.608
85. Wilhelmina R 4,8% x 50.000 = 2.400
3,6% x 201.000 = 7.236
9.636
86. Andri Irfan 4,8% x 100.000 = 4.800
3,6% x 310.000 = 11.160
15.960

Selasa, 04 Januari 2011

TUGAS EKONOMI KOPERASI (PEMBAGIAN SHU )

TUGAS EKONOMI KOPERASI ( TULISAN )

PEMBAGIAN SHU KOPERASI ELISABETH MEMBERI KONTRIBUSI KESEJAHTERAAN BAGI ANGGOTANYA

PENDAHULUAN
Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat  1 menyatakan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”. Bangun perusahaan yang sesuai dengan pernyataan tersebut adalah koperasi. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan ( UU No 25 tahun 1992 pasal 1 ayat (1) ). Asas kekeluargaan mencerminkan adanya kesadaran dari hati nurani manusia untuk bekerja sama dalam koperasi. Koperasi Indonesia bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 ( UU No 25 tahun 1992 pasal 3). Penjabaran dari tujuan koperasi tersebut, tiap koperasi mempunyai tujuan tersendiri yang tercantum dalam Anggaran Dasar  masing-masing koperasi dimana tujuan ini dirumuskan berdasarkan kepentingan dan kebutuhan anggotanya dan sesuai dengan bidang usaha koperasi. Tujuan koperasi yang tercantum dalam anggaran dasar  kemudian   dijabarkan   lagi   dalam   tujuan – tujuan     jangka  pendek   
Sebagai suatu badan usaha, koperasi di dalam menjalankan kegiatan usahanya tentu saja menghendaki untuk mendapatkan keuntungan atau sisa hasil usaha. Jika koperasi bisa mendapatkan sisa hasil usaha yang cukup banyak, maka sisa hasil usaha tersebut dapat di sisihkan sebagian untuk cadangan kopersi, yang selanjutnya bisa dipergunakan untuk menambah modal koperasi. Apabila modal koperasi bertambah besar, maka dengan sendirinya lingkup usaha koperasi akan bertambah besar pula.   


PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP SISA HASIL  USAHA
Dalam mencapai tujuan  suatu koperasi harus memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi pencapaian tujuan koperasi, di antaranya yaitu partisipasi anggota. Maju mundurnya koperasi ditentukan oleh partisipasi anggotanya. Di mana sumbangsih anggota koperasi terhadap koperasinya sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan koperasi itu sendiri dalam pencapaian tujuan koperasi.  Partisipasi anggota merupakan proses atau kegiatan di mana para anggota bekerja atau berusaha melalui koperasinya. Partisipasi anggota ini meliputi partisipasi anggota dalam bidang demokrasi ekonomi koperasi, partisipasi anggota dalam permodalan, dan partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi. Adanya partisipasi aktif dari para anggota akan mengakibatkan perolehan sisa hasil usaha koperasi sesuai dengan yang diharapkan Dalam hubungan dengan SHU peranan partisipasi anggota sangatlah diperlukan dalam rangka meningkatkan usaha koperasi untuk memperoleh pendapaatan.
Sebagaimana dipahami mengenai SHU koperasi,    bahwa SHU setelah dikurangi dengan dengaan dana cadangan, biaya penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota koperasi dalam satu periode tertentu.  Baik buruknya koperasi tidak hanya tergantung kepada pengurus tetapi partisipasi aktif anggotanya. Disini anggota sebagai subyek, peran yang fundamental dan pemegang kendala pengawasan terhadap koperasinya. Dalam melaksanakan tugasnya secara rinci, anggota dapat mendelegasikan wewenangnya kepada pengurus dan pengawas Koperasi. Selain itu partisipasi anggota terus terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari, misalnya rutin menggunakan jasa Koperasi, usaha yang sehat suatu Koperasi adalah salah satunya ditandai dengan keikutsertaan para anggotanya dalam Koperasi diimbangai dengan jasa oleh Koperasi kepadanya, minimal anggota tidak merasa kecewa terhadap pelayanan yang diberikan oleh kopersinya. Di sisi peran aktif anggota terhadap kopersinya dihargai dengan jasa yang diberikan oleh koperasi terhadap anggotanya. Semakain aktif anggota berperan terhadap koperasinya, maka semakin besar pula jasa yang diterima anggota dari koperasinya.
Seperti dijelaskan diatas bahwa Peranan partisipasi anggota sangatlah berpesangat berpengaruh terhadap SHU yang di dapat oleh koperasi, yang pada akhirnya SHU yang didapat oleh koperasi kembali lagi kepada anggota sesuai dengan partisipasi anggota tersebut terhadap koperasinya. Yang menjadi pertanyaan disini adalah (1) Adakah pengaruh partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha (SHU) di Koperasi karyawan karyawati Elisabeth. (2) Seberapa besarkah pengaruh partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha (SHU) di Koperasi  Elisabeth.
PENGARUH PARTISIPASI  ANGGOTA TERHADAP SHU  KOPERSI ELISABETH
Pengelolaan koperasi yang baik diperlukan kerjasama dan partisipasi dari anggotanya. Bentuk partisipasi anggota dalam pengelolaan koperasi adalah dalam hal permodalan dan permodalan ini dapat dilakukan oleh setiap anggota dengan membayar beberapa jenis simpanan yang ada dalam koperasi yaitu simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela secara teratur. Dengan modal yang dimiliki koperasi, maka koperasi akan lebih mudah memenuhi kebutuhan anggota, disamping modal, koperasi akan berkembang bila anggota mau memanfaatkan jasa yang disediakan oleh koperasi,  disini  anggota sebagai pengguna dari setiap kegiatan usaha koperasi, dan juga  sebagai konsumen bahkan pelanggan dari kegiatan usaha koperasi.
Koperasi Elisabeth sampai sekarang ini masih dikelola oleh karyawan-karyawati Elisabeth sendiri, mereka belum mempunyai petugas khusus untuk mengurusi kopersi yang bergerak pada usaha simpan pinjam, namun mereka memiliki komitmen untuk saling membantu dan kerjasama, maka  partisipasi dari anggota sangat menentukan sekali maju mundurnya kopearasi ini. Partisipasi yang aktif dari para anggota koperasi  Elisabeth  dapat meningkatkan perolehan sisa hasil usaha (SHU). Hal ini nampak bagaimana para anggota dalam memenuhi kewajibannya  membayar simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela secara teratur, disamping itu  pihak koperasi juga bekerjasama dengan pihak Rumah Sakit, sehingga  hambatan-hambatan atau kendala dalam membayar segera cepat teratasi.
Tentunya perolehan sisa hasil usaha (SHU) setiap tahun bagi koperasi ini menjadi sangat penting, karena sebagian dari sisa hasil usaha (SHU) tersebut disisihkan sebagai cadangan yang akan memperkuat koperasi itu sendiri.  Partisipasi yang aktif dari semua anggota koperasi terhadap semua kegiatan koperasi memberi pengaruh terhadap perolehan sisa hasil usaha (SHU)  yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Sisa hasil usaha (SHU) yang diperoleh koperasi merupakan salah satu daya tarik bagi karyawan untuk menjadi anggota koperasi tersebut dan akan mendorong anggota yang berpartisipasi pasif menjadi anggota yang aktif. Pengaruh partisipasi para anggota koperasi Elisabeth menunjukkan perkembanagan yang baik dimana usaha simpan pinjam ini mengalami peningkatan dan sudah mulai dirasakan manfaatnya bagi para anggotanya terlebih pada saat-saat mau memasukkan anaknya kejenjang pendidikan, koperasi simpan pinjam ini mempunyai peranan yang besar.

SHU KOPERASI ELISABETH MEMBERI KONTRIBUSI KESEJAHTERAAN BAGI ANGGOTANYA
Sisa hasil usaha koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh satu tahun buku seletah dikurangi dengan penyusutan dan biaya-biaya dari tahun buku yang bersangkutan Sumber sisa hasil usaha diperoleh dari jasa pelayanan kepada anggota maupun bukan anggota koperasi.  Perlu dipahami bahwa SHU bukan deviden seperti PT tetapi keuntungan usaha yang dibagi sesuai dengan aktifitas ekonomi anggota koperasi, maka besarnya SHU yang diterima oleh setiap anggota akan berbeda, tergantung besarnya partisipasi modal dan transaksi anggota terhadap pembentukan pendapatan koperasi. Artinya, semakin besar transaksi(usaha dan modal) anggota dengan koperasinya, maka semakin besar SHU yang akan diterima.
Pembagian SHU Koperasi Elisabeth tahun 2009 yang diterima anggota memang belum begitu besar tetapi bukan berarti tidak memberi kontribusi bagi kesejahteraan para anggotanya. SHU yang dibagikan setiap tahun  langsung dimasukkan kedalam simpanan anggota  untuk menambah permodalan koperasi. Dengan penambahan permodalan kopersi ini semakin meningkatakan pendapatan koperasi karena bisa memberi pinjaman yang tentunya lebih dari sebelumnya yang mana itu menjadi keuntungan bagi koperasi .Koperasi Elisabeth ini baru berjalan 2 (dua) tahun dan dari perkemabangannya mereka yakin bahwa koperasi ini secara keseluruhan mampu memberi kontribusi bagi kesejahteraan para anggotanya.





PENUTUP
Dalam mencapai tujuan  suatu koperasi harus memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi pencapaian tujuan koperasi, di antaranya yaitu partisipasi anggota. Maju mundurnya koperasi ditentukan oleh partisipasi anggotanya. Di mana sumbangsih anggota koperasi terhadap koperasinya sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan koperasi itu sendiri dalam pencapaian tujuan koperasi. 
Partisipasi anggota merupakan proses atau kegiatan di mana para anggota bekerja atau berusaha melalui koperasinya. Partisipasi anggota ini meliputi partisipasi anggota dalam bidang permodalan, dan partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi. Adanya partisipasi aktif dari para anggota akan mengakibatkan perolehan sisa hasil usaha koperasi sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hubungan dengan SHU peranan partisipasi anggota sangatlah diperlukan dalam rangka meningkatkan usaha koperasi untuk memperoleh pendapaatan..































TUGAS EKONOMI KOPERASI (SURVEY KOPERASI)